" nama ustad " : " ust . ahmad sarwat , lc . , ma " 

" judul " : " 1 syawal , 23 atau 24 oktober ? "

" isi " : " assalamuallaikum wr . wb . " , " pak ustadz , kapan 1 syawal di indonesia ? seperti ada yang tanggal 23 dan 24 oktober , yang mana yang harus masyarakat ikut ? " , " wassalamuallaikum wr . wb . "

" jawaban1 " : " wed 18 october 2006 04 : 23  " , "  4 . 605 views  n " , " n " , " n " , " assalamuallaikum wr . wb . " , " pak ustadz , kapan 1 syawal di indonesia ? seperti ada yang tanggal 23 dan 24 oktober , yang mana yang harus masyarakat ikut ? " , " wassalamuallaikum wr . wb . " , " n " , " sejak masa nabi saw hingga kini 1400 tahun kemudian , tata atur dalam tentu awal bulan qamariyah tidak pernah ubah , yaitu dengan lihat hilal ( bulan sabit di awal bulan ) . hal ini bagaimana sabda nabi saw : " , " dalam riwayat muslim : maka hitung 30 hari . dalam riwayat bukhari : lengkap hitung bulan sya ' ban jadi 30 hari . " , " maka panjang hidup nabi saw sama ramadhan , jadwal puasa dan lebaran tentu dari lihat atau tidak hilal . bila hilal nampak , mana mereka mulai puasa dan lebaran . balik , bila hilal tidak nampak , puasa atau lebaran tunda hari lagi . maka bulan sya ' ban genap jadi 30 hari atau ramadhan genap jadi 30 hari . " , " tinggal nabi saw , para " , " tidak pernah ubah . demikian juga dengan para khalifah islam panjang zaman , baik di masa khilafah bani umayyah di damaskus , atau para khalifah bani abbasiyah di baghdad , atau khilafah bani umayyah dua di andalusia hingga khilafah yang akhir , bani utsmaniyah di istambul . bahkan hingga hari ini . " , " sementara ilmu hisab sudah sejak dulu kenal manusia , bahkan di masa nabi hidup , ilmu hisab sudah kembang . akan tetapi nabi saw tidak pernah singgung masalah awal ramadhan dan awal syawwal dengan guna ilmu hisab . apalagi perintah . maka sudah jadi ijma ' di antara para ulama salaf dan khalaf tentang harus laku " , " ( lihat bulan ) , bukan dengan ilmu hisab . " , " namun bukan arti ilmu hisab tidak punya tempat . dalam syariah islam , ilmu hisab tetap punya tempat , bahkan sangat penting . jauh lebih penting dari dar tetap awal ramadhan dan syawwal . ilmu hisab sangat guna untuk tetap jadwal shalat 5 waktu . meski hadits nabi saw telah tetap jadwal shalat dasar edar matahari , namun ilmu hisab tidak bisa ganti peranannnya . semua umat islam dunia pasti andal ilmu hisab untuk tetap jadwal shalat . tidak ada lagi yang tiap mau shalat keluar dulu lihat matahari atau mega merah . " , " misal , dalam hadits tetap bahwa waktu dzhuhur mulai saat matahari sedikit geser ke barat telah belum tepat ada di atas kepala kita . para ulama istilah dengan waktu zawal . dalam praktek , pasti kita sulit bila tiap mau shalat dzhuhur , kita harus ke luar rumah dar untuk pasti apakah matahari sudah zawal atau belum . cukup kita patok dengan ilmu hisab , yang telah bisa pasti pada menit berapa zawal akan jadi . " , " apalagi nabi saw tidak pernah cara khusus perintah untuk lihat matahari dulu belum shalat . jadi tidak ada perintah khusus untuk ' lihat ' . sehingga tanpa lihat , asal kita bisa pasti posisi matahari lewat amat gerak - gerik matahari belum ( imu hisab ) , maka sudah cukup buat kita . " , " namun khusus untuk tetap awal bulan qamariyah , metode hisab tidak bisa jadi ukur . mengapa ? bukankah hisab itu sangat akurat dan hasil bisa pasti ? " , " ada dua alas yang sebab ilmu hisab tidak bisa jadi acu utama dalam tentu awal bulan qamariyah , lain dar jadi acu dua . " , " pertama , ada dalil yang qath ' i baik cara " , " maupun cara " , " yang harus rukyatul hilal , khusus untuk tetap awal ramadhan dan awal syawwal . bagaimana hadits di atas . maka semata - mata andal ilmu hisab , jelas rupa buah langgar atas dalil nash yang sharih . beda dengan tetap waktu shalat yang tidak ada perintah untuk lihat , jadi boleh dengan kira atau hitung . " , " dua , nyata ilmu hisab pun tidak semua valid . meski sudah guna rumus yang banyak serta hitung yang njelimet , tetapi hasil seringkali tetap beda . begitu banyak ahli hisab yang keluar hasil hitung - hitung yang satu dengan yang lain saling beda . ada banyak faktor , tetapi yang penting adalah bahwa ilmu hisab pun tidak pernah lepas dari beda versi . " , " walhasil , tinggal metode ru ' yatul hilal yang olah anggap kurang ilmiyah lalu rujuk kepada imu hisab yang olah anggap lebih ilmiyah , adalah buah tindak yang tidak tepat . sebab hasil ilmu hisab pun sama tidak valid . bukti , untuk lebaran tahun ini , perintah ri yang sudah guna para ahli hisab sejak awal tetap bahwa 1 syawwal jatuh pada hari selasa , 24 oktober 2006 . tetapi pada ahi hisab muhammadiyah malah tetap hari belum , yaitu senin 23 ramadhan 2006 . kalau ilmu hisab itu valid , harus tidak perlu ada dua hasil yang beda . " , " simpul , baik kita kembali kepada originalitas praktek syariah islam yang telah laksana lama 14 abad lama . kita tetap tanggal 1 syawwal nanti semata - mata dasar hasil ru ' yatul hilal . " , " ru ' yatul hilal laku pada tanggap 29 ramadhan , yang insya allah jatuh pada hari ahad . maka para ahad sore itu kita akan tahu , apakah lebaran jatuh hari senin atau hari selasa . lebaran akan jatuh pada hari senin apabila di sore ahad itu ada satu orang saja yang lihat hilal . tetapi lebaran akan jatuh pada hari selasa apabila tak orang pun yang lihat . " , " mungkin bagi kita akan geleng - geleng kepala bila lebaran itu jatuh tidak bisa pasti . sebab urus bukan kapan takbir dan shalat idul fithri , tetapi kait dengan sekian banyak hal besar . kata saja misal kerepot polisi dalam tetap hari h . kalau lebaran tidak bisa pasti kapan jatuh , bagaimana terap h - 7 dan h 7 ? " , " belum lagi buat dunia ekonomi , bisa - bisa sangat runyam jadi . sebab para laku bisnis , pasar , bursa saham , dunia traveling , ekspedisi , ekspor impor dan lain , mereka semua butuh pasti jatuh hari lebaran dengan pasti , tidak bisa tentu dalam hitung menit saja saat lihat bulan . bahkan sejak awal tahun sudah harus pasti jatuh hari lebaran . geser sedikit saja , semua hitung - hitung akan beranta . " , " mungkin timbang ini yang buat perintah kita punya biasa main pasti saja jatuh lebaran sejak awal tahun , bahkan sejak beberapa tahun belum . metode tentu dengan guna ilmu hisab . alas untuk pasti jadwal . memang masuk akal juga . " , " namun semua itu pasti tidak akan jadi , bila sejak awal perintah sudah antisipasi . mengapa perintah indonesia tidak ajar dari perintah saudi arabia ? mereka bisa laku dengan mudah tiap tahun . " , " kita pun benar bisa saja tetap pegang pada sistem rukyatul hilal . asal ada komitmen kuat untuk pegang pada sistem yang lebih original dalam syariat islam . yang pasti , syariah itu tidak pernah turun untuk dar beri beban tambah . balik , kita harus prasangka baik bahwa syariah itu turun untuk mudah kita semua . " , " kalau alas untuk pasti jatuh hari raya karena banyak sendi hidup yang sangat gantung pada jatuh hari raya , mengapa kita tidak pikir balik ? " , " mengapa kita malah korban esensi syariah lebaran , demi dar penting hal - hal yang sifat tunjang lebaran ? ideal , prinsip syariah lebaran itu yang harus junjung tinggi , sedang hal - hal yang kait dengan lebaran , harus sesuai diri . kita harus tetap lebaran dasar rukyatul hilal , meski anggap kurang pasti . sementara segala macam penting lain , harus tunduk dan ikut kepada atur syariah dalam lebaran . dan bukan balik . " , " kalau kita beli topi kecil , harus topi tukar dengan yang lebih besar . bukan kepala belah agar jadi lebih kecil . lebaran itu berangkat dari perintah syaraih , maka hitung pun harus acu kepada syariah yang lebih valid . sementara tetek bengek lebaran , semua hanya unsur dukung , tidak bisa jadi prioritas yang tentu jatuh lebaran . "
